Era Serba Cepat, Tapi Hati Semakin Tumpul: Tentang Nirempati di Dunia Digital dan Media

Fenomena nirempati di era digital dan media menunjukkan betapa mudahnya kita kehilangan kepekaan dalam kecepatan informasi. Artikel ini mengajak pembaca melihat kembali...

Era Serba Cepat, Tapi Hati Semakin Tumpul: Tentang Nirempati di Dunia Digital dan Media

Di tengah derasnya arus informasi dan kecepatan opini, empati pelan-pelan kehilangan tempatnya. Bukan karena kita tidak peduli — tapi karena dunia digital membuat “merasakan” jadi sesuatu yang kalah cepat dari “bereaksi.”

Hidup di Era Cepat, Tapi Hati Semakin Lambat Merasa

Kita hidup di zaman di mana reaksi lebih cepat dari refleksi. Ketika ada peristiwa viral, media dan warganet berlomba jadi yang pertama bersuara — bukan yang paling paham. Akibatnya, empati sering jadi korban dari kecepatan itu.

Bukan karena manusia hari ini kejam, tapi karena ruang digital mendidik kita untuk cepat menilai, bukan untuk pelan mendengar.

Fenomena ini mulai terasa nyata ketika banyak tayangan dan berita memilih sensasi ketimbang konteks. Salah satu contohnya, kontroversi yang terjadi pada program dokumenter Xpose Uncensored di Trans7. Tayangan itu memicu reaksi keras publik karena dianggap menarasikan kehidupan pesantren secara bias dan tidak empatik — menyorot simbol tanpa memahami makna sosial di baliknya.

Ketika Narasi Kehilangan Rasa

Dalam dunia jurnalistik, empati seharusnya menjadi fondasi: bagaimana kita menulis dan menyampaikan kisah manusia tanpa menelanjangi martabatnya.

Namun kini, narasi sering kehilangan "rasa" karena tuntutan engagement dan algoritma.

Semakin emosional, semakin ramai — tapi juga semakin dangkal.

Empati, yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak untuk memahami, kini tergeser oleh kebutuhan untuk “tampil tahu.”

Maka lahirlah fenomena yang disebut nirempati — keadaan di mana orang tampak peduli, tapi hanya di permukaan; atau bahkan, peduli hanya untuk terlihat peduli.

Ketika Media Jadi Cermin yang Retak

Media, baik televisi maupun media sosial, pada dasarnya adalah cermin masyarakat. Tapi belakangan, cermin itu tampak retak: potongan-potongan realita disusun tidak utuh, membentuk persepsi yang salah arah.

Program seperti Xpose Uncensored mungkin ingin mengungkap realitas, tapi tanpa sensitivitas budaya, yang muncul justru jarak — antara yang dilihat dan yang merasa dilihat.

Di sisi lain, audiens juga ikut terperangkap dalam pola konsumsi cepat. Kita menonton, menilai, lalu marah — semua dalam hitungan detik.

Padahal di balik setiap tayangan, ada konteks sosial, budaya, dan nilai yang tidak bisa dipahami hanya dari potongan video 30 detik.

Belajar Menyimak Lagi

Mungkin dunia digital tidak akan pernah melambat. Tapi manusia bisa memilih untuk berhenti sejenak — untuk menyimak, bukan sekadar menatap.

Empati tidak lahir dari kecepatan, tapi dari kesediaan untuk hadir sepenuhnya.

Menjadi penonton yang peka, pembaca yang berhati-hati, dan penulis yang memikirkan dampak dari setiap kata — itu cara sederhana melawan era nirempati.

Karena di tengah bisingnya dunia, mereka yang mampu merasakan, masih punya peran penting: menjaga kemanusiaan agar tidak ikut terkikis oleh kecepatan.

Akhir Kata

Kalau kamu juga pernah merasa jenuh dengan hiruk-pikuk dunia digital — yang kadang lebih ramai alih-alih hangat — mungkin ini saatnya tarik napas sebentar.

Bukan untuk menjauh, tapi untuk menyimak ulang: bagaimana kita bisa tetap jadi manusia yang merasa, bukan hanya yang bereaksi.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.