Bagi banyak karyawan baru, terutama yang pertama kali bekerja di lingkungan startup atau perusahaan modern, kebijakan “bebas berpakaian” sering terdengar seperti mimpi. Tidak ada aturan ketat soal kemeja formal, celana kain, atau sepatu pantofel. Semua terlihat lebih santai, kreatif, dan nyaman. Tapi di balik kebebasan itu, ada jebakan halus yang sering menjadikan kesan pertama tidak berjalan sebaik yang diharapkan.
Kebebasan berpakaian bukan berarti tidak ada batasan. Sebab, meskipun suasana startup lebih fleksibel dibandingkan perusahaan konvensional yang menerapkan seragam kantor, tetap ada standar profesionalitas yang harus dijaga. Nah, berikut ini adalah lima kesalahan outfit yang sering dilakukan karyawan baru di kantor bergaya casual dan bagaimana cara menghindarinya.
1. Terlalu Santai Seolah Mau Nongkrong, Bukan Ngantor
Ini kesalahan paling umum dan paling mudah dilakukan. Banyak karyawan baru datang dengan pakaian yang lebih cocok untuk ke mal atau nongkrong di kafe ketimbang bekerja. Contohnya: kaos dengan gambar besar atau tulisan nyeleneh, celana pendek, atau bahkan sandal jepit.
Memang tidak ada dress code yang melarangnya secara eksplisit di banyak startup, tapi kesan yang muncul bisa jadi salah. Atasan atau rekan kerja mungkin menilai kamu kurang menghargai lingkungan kerja atau tidak cukup profesional.
Solusinya: pilih outfit yang tetap nyaman, tapi punya kesan “siap kerja”. Misalnya, kaos polos atau kemeja linen yang rapi dipadukan dengan celana chino atau jeans berpotongan bersih. Untuk alas kaki, sneakers netral atau loafers bisa jadi pilihan aman. Intinya, tampil santai tapi tetap pantas.
2. Tidak Menyesuaikan dengan Budaya Kantor
Setiap kantor punya budayanya sendiri. Ada startup yang super santai sampai CEO-nya pun pakai hoodie, tapi ada juga yang walau tanpa seragam tetap mengharapkan karyawan tampil rapi dan representatif, terutama jika sering berinteraksi dengan klien.
Karyawan baru sering salah langkah karena tidak membaca situasi. Ada yang terlalu overdressed, datang dengan blazer dan sepatu kulit di antara rekan kerja berkaos. Ada pula yang terlalu underdressed, tampil asal-asalan di kantor yang ternyata menjunjung tampilan profesional.
Solusinya: observasi dulu. Lihat bagaimana mayoritas tim berpakaian di minggu pertama. Kalau kamu masih WFH atau onboarding online, tidak ada salahnya bertanya ke HR atau rekan satu divisi tentang “gaya berpakaian sehari-hari di kantor”. Jangan malu! Itu justru menunjukkan kamu peduli dengan adaptasi budaya kerja.
3. Lupa Bahwa ‘Casual’ Tetap Butuh Perawatan
Baju boleh casual, tapi tetap harus bersih, disetrika, dan wangi. Banyak karyawan baru yang terlalu fokus pada kata “bebas” hingga melupakan detail perawatan pakaian. Kaos kusut, celana belel, atau sepatu kotor bisa memberi kesan malas dan kurang rapi.
Padahal, di dunia kerja apalagi di lingkungan kolaboratif seperti startup tampilan kamu ikut memengaruhi cara orang lain menilai kedisiplinan dan profesionalitasmu.
Solusinya: siapkan waktu di akhir pekan untuk mencuci dan menyetrika pakaian kerja. Gunakan pewangi yang lembut, dan pastikan sepatu dalam kondisi bersih. Ingat, pakaian yang terawat bukan hanya enak dilihat, tapi juga membuatmu lebih percaya diri sepanjang hari.
4. Tidak Memperhatikan Konteks Acara dan Aktivitas
Satu hal yang sering luput dari perhatian karyawan baru adalah bahwa rutinitas di kantor startup bisa sangat beragam. Hari ini mungkin hanya duduk di depan laptop, tapi besok bisa saja harus bertemu klien, ikut pitching, atau menghadiri acara komunitas.
Kalau kamu datang dengan outfit yang terlalu santai (misalnya kaos dan celana pendek) lalu tiba-tiba harus menghadiri meeting penting, kamu bisa kehilangan momen untuk membuat kesan pertama yang baik.
Solusinya: siapkan “plan B” di lemari kerja atau mobilmu. Simpan satu outer atau blazer casual, sepatu yang lebih formal, atau kemeja bersih untuk berjaga-jaga. Dengan begitu, kamu bisa dengan cepat beradaptasi dengan situasi tanpa panik.
Selain itu, pahami ritme kerja timmu. Jika ada agenda meeting rutin dengan pihak eksternal, jadwalkan untuk berpakaian sedikit lebih rapi pada hari-hari tersebut. Ini menunjukkan kamu sigap dan profesional.
5. Tidak Menunjukkan Kepribadian Lewat Gaya
Banyak karyawan baru yang terlalu berhati-hati dan akhirnya tampil terlalu “aman”. Polos, membosankan, tanpa sentuhan personal. Padahal, lingkungan startup biasanya menghargai ekspresi diri dan keunikan individu.
Namun, di sisi lain, ada juga yang justru terlalu berani. Memadukan outfit mencolok, aksesori berlebihan, atau gaya yang terlalu nyentrik hingga mengganggu konsentrasi orang lain.
Solusinya: temukan keseimbangan. Tunjukkan sedikit karakter lewat warna, motif, atau aksesori kecil seperti jam tangan, sepatu keren, atau tote bag dengan desain unik. Pastikan elemen itu tetap relevan dengan suasana kerja dan tidak mendistraksi.
Ingat, berpakaian di kantor bukan sekadar soal gaya, tapi juga komunikasi visual tentang siapa dirimu dan bagaimana kamu menghargai lingkungan profesional.
Tampilkan Sikap Profesional untuk Melengkapi Penampilanmu!
Tak peduli seberapa stylish atau tepat outfit-mu, semuanya akan percuma kalau tidak dibarengi dengan sikap profesional. Bersikap sopan, datang tepat waktu, dan menjaga etika di tempat kerja adalah bagian dari “gaya” yang jauh lebih penting.
Karena pada akhirnya, pakaian hanya membantu membangun kesan pertama. Tapi perilaku dan kinerja yang akan menetapkan reputasimu dalam jangka panjang.
Kebijakan berpakaian bebas di kantor adalah bentuk kepercayaan dari perusahaan terhadap kedewasaan dan tanggung jawab karyawannya. Namun, kebebasan itu tetap datang dengan batasan yang perlu dipahami.
Berpakaian terlalu santai bisa membuatmu tampak tidak serius, sementara terlalu formal bisa membuatmu terlihat kaku dan tidak sesuai budaya tim. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan antara kenyamanan pribadi dan kesan profesional.
Jadi, sebelum berangkat kerja besok, coba lihat kembali outfit kamu di cermin. Apakah terlihat nyaman sekaligus pantas untuk bekerja? Kalau iya, berarti kamu sudah memahami makna sejati dari “casual but professional”.
Karena pada akhirnya, casual bukan berarti bebas. Tapi bijak dalam memilih cara menampilkan diri.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.