Cara Membuat Anak Jatuh Cinta Pada Buku

Buku adalah jendela ilmu, yang tak lekang oleh waktu. Meski di era digitalisasi, peran buku akan sangat membantu. Namun sekarang kita dihadapkan...

Cara Membuat Anak Jatuh Cinta Pada Buku

Berdasarkan survei dari Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, Indonesia menempati urutan ke 63 dari 83 negara dalam hal kemampuan membaca literasi. Namun, survei dari CEOWORLD menempatkan Indonesia pada peringkat 31 dari 102 negara, pada tahun 2024, untuk tingkat kegemaran membaca buku. 

Memang kita sadari, di era digitalisasi butuh effort yang kuat untuk bisa mengenalkan buku pada anak-anak. Pasalnya kehadiran gadget bagi anak-anak terasa lebih menyenangkan daripada buku. Mereka rela berlama-lama menghabiskan waktu bersama gadget. Namun, tidak dengan membaca buku. Meski terkadang kita sudah peringatkan akan bahaya di balik penggunaan gadget, namun seolah itu tidak menakutkan.

Sebenarnya sebagai orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan kebiasaan membaca pada anak. Semakin dini mengenalkan buku terhadap anak, maka akan semakin besar kesukaan anak terhadap buku.

Berikut ini sekelumit cara yang bisa orang tua lakukan agar anak bisa menyukai buku.

Pertama, sebelum mengenalkan buku, ada baiknya kita singkirkan apa yang menjadi penghalang anak untuk berinteraksi dengan buku. Misal gadget, perangkat game atau aktivitas menonton televisi yang berlarut-larut. Sehingga anak mempunyai waktu untuk aktivitas lainnya yang lebih positif. Contohnya membaca.

Kedua, kenalkan buku pada anak sedini mungkin. Tentunya buku-buku yang sesuai dengan usianya. Untuk anak usia 3 tahun ke bawah bagus jika mulai dikenalkan dengan board book ataupun buku kain. Sehingga buku akan lebih awet tidak mudah sobek. 

Ketiga, berikan buku-buku yang menarik dengan minat anak terlebih dahulu. Misal, anak sedang suka dengan mobil, maka fasilitasi buku yang memuat gambar atau ilustrasi tentang mobil. Buku-buku yang full color juga lebih menarik bagi anak-anak.

Keempat, berikan buku-buku yang ringan terlebih dahulu. Misalnya buku dengan gambar yang lebih dominan dari pada teks tulisan. Orang tua bisa ikut terlibat dalam membaca bersama, ataupun mengomentari gambar yang ada. Jika sudah mulai suka, bisa bertahap dengan memberikan buku yang teksnya lebih banyak. Dan akan sampai pada anak menyukai buku yang isinya full teks, seperti kumpulan cerpen, novel ataupun buku-buku sejarah.

Kelima, jika budget membeli buku baru terasa berat, hal ini bisa diatasi dengan cara ajak anak ke perpustakaan daerah, menjadi member di sana dan bisa meminjam buku yang sudah disediakan oleh pihak perpustakaan. Atau bisa juga dengan saling pinjam koleksi buku dengan teman-temannya.

Keenam, orang tua harus memberikan contoh juga bahwa aktivitas membaca itu baik. Karena anak itu mudah meniru. Dan anak mudah melakukan apa yang dilihat daripada apa yang didengar dari lisan. Maka jika orang tua ingin mempunyai anak yang suka membaca, selain memfasilitasi buku, orang tua pun harus bisa memberikan contoh aktivitas membaca. Sehingga ada dorongan dari anak untuk meniru apa yang orang tua lakukan.

Mudah bukan? Karena sesungguhnya membaca itu sangat mengasyikkan, hanya saja banyak dari kita belum menyadarinya. Akan sangat berbeda membaca dari buku cetak dan e-book. Maka, meski saat ini era digital kita pun jangan sampai meninggalkan kebiasaan membaca buku yang berupa buku cetak. Begitu juga dengan anak-anak kita. Mengenalkan buku sebagai gudang ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.