Sumpah Pemuda: moment bangkitkan Olahraga?

97 tahun untuk yang selalu berjiwa muda

Sumpah Pemuda: moment bangkitkan Olahraga?

Bulan Oktober adalah tonggak sejarah perjuangan bangsa. para kaum milenial dimasanya menginisiasi kongres Pemuda yang kemudian melahirkan Sumpah pemuda. Setelah bertahun- tahun Perjuangan melawan penjajah kolonial dengan kekuatan senjata dan bersifat kedaerahan. Masyarakat mulai menyadari bahwa perjuangan tidak akan berhasil hanya mengandalkan kekuatan senjara dan fisik. Namun haruslah dibarengi dengan perjuangan lain. Sejak dimotori oleh Sutomo dan dr. Wahidin Sudirohusodo melalui Perkumpulan Budi Utomo (BU) yang berdiri dan diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, maka berbagai organisasi pergerakan dan perkumpulan semakin tumbuh berkembang seperti Sarekat Dagang Islam (Kemudian jadi SI saja) , Indische Partij, Muhammadiyah, NU dll, maka perjuangan lebih difokuskan melalui perkumpulan dan pemikiran. Puncaknya pada 28 Oktober 1928, Para Pemuda berikrar sumpah untuk bersatu dalam negara, bangsa dan bahasa yakni Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kaum muda masa itu telah memiliki jiwa visioner yang tinggi, padahal masih memiliki beragam keterbatasan dalam berbagai aspek akibat pengekangan penjajah. 

Peristiwa Sumpah Pemuda juga mengilhami beragam organisasi lainnya seperti Jong Java, Jong Sumatera dll pada masa Pendudukan Jepang. Puncaknya menjelang Proklamasi, kaum muda juga inisiator untuk mengamankan proklamator Ir. Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok setelah mendengar berita kekalahan Jepang untuk meyakinkan golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Ketika golongan tua masih percaya dengan janji pemberian kemerdekaan oleh Jepang. Pada saat Proklamasi para pemuda juga berperan aktif didalamnya untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi terbaru dari dunia luar.

Kita sebagai pemuda atau orang yang berjiwa muda, mestinya sangat terpacu dan terinspirasi dari para pemuda-pemuda dimasa lampau. Mereka yang belom dibekali alat-alat komunikasi modern bisa berperan aktif dalam masa perjuangan apalagi kita dimasa kini dengan kemudian beragam akses Informasi hendaknya menjadi garda terdepan dan benteng persatuan.

Dewasa ini, kita melihat baik di media massa atau Media sosial banyak para pemuda yang jatuh dalam kriminalitas, pembuliyan. Banyak pula yang hanya bergerombol untuk sekedar pesta miras, balap liar dan main games. Tidak banyak siswa yang saat ini mengerti sejarah perjuangan bangsanya karena minimnya literasi dan kecanduan Gadget. Para Pahlawan khususunya para pemuda dimasa perjuangan yang mendahului kita akan menangis melihat realita para gen Z dan Alpha saat ini.

Sebenarnya, ini juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang terlalu lunak dalam dunia pendidikan dimana mewajibkan guru memberikan nilai baik kepada siswa agar tidak meruntuhkan mental mereka disisi positif, tetapi menjadi negatif, ketika siswa berfikir tidak perlu belajar sungguh-sungguh pasti nilainya baik, naik kelas dan lulus ke jenjang berikutnya.

Semangat sumpah pemuda juga belum terlihat dalam kinerja dilapangan. Dalam dunia olah raga prestasi kita hari ini juga semakin merosot terutama bulu tangkis. Jika dulu di tunggal Putera kita punya Rudi Hartono, Alan Budi Kusuma dan sampai era Taufik Hidayat kita lihat bulu tangkis kita sangat berjaya. Sementara kita saat ini tinggal ada nama Jonatan Cristie yang masih udzur dan masih di 10 besar dunia.di Ganda Putra kita juga dulu punya Ricky subagja-Rexy Mainaky, Candra Wijaya-Sigit Budiarto, Markis Kido-Hendra Setiawan dan sampai Marcus-Kevin yang disegani lawan. Sekarang kita tidak lagi memiliki ganda Putra tangguh lagi. Ini menunjukan pembinaan  kaum muda untuk menjadi atlet sudah tertinggal dari negara lain.

Satu lagi, adalah cabang sepakbola yakni momen lolosnya Indonesia ke putaran ke-4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia yang pertama dalam sejarah. Sayang, Perjuangan dari Ronde 1 sampai 3 yang melewati puluhan pertandingan dan tumbuhnya semangat lolos hancur hanya dalam 2 pertandingan. Ironis memang, dengan tambahan darah-darah segar dalam diri pemain naturalisasi yang di rekrut gagal menaklukan 2 negara yang salah satunya pernah kita kalahkan di putaran sebelumnya dengan modal pemain seadanya.

Di moment sumpah pemuda ini, kami berharap muncul visi yang jelas dan segar dari para pemangku kepentingan untuk sungguh- sungguh memperhatikan pembinaan kaum muda khususnya untuk bibit- bibit atlit yang mengharumkan nama negara di kemudian hari.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.