5 Negara dengan Nilai Mata Uang Terjun Bebas Karena Hiperinflasi

Pelajari kisah 5 negara yang mata uangnya anjlok akibat hiperinflasi parah. Temukan penyebab, dampak ekonomi, dan pelajaran penting dari krisis moneter dunia...

5 Negara dengan Nilai Mata Uang Terjun Bebas Karena Hiperinflasi

Selama beberapa tahun terakhir, ekonomi dunia perlahan mulai stabil pascapandemi Covid-19. Namun, bayang-bayang inflasi, deflasi, dan fluktuasi nilai tukar masih menjadi kekhawatiran global. 

Di tengah upaya pemulihan, sejumlah negara justru menghadapi lonjakan inflasi yang mengguncang nilai mata uang mereka.

Apa Itu Hiperinflasi Hubungannya dengan Nilai Mata Uang

Hiperinflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang menggerus daya beli masyarakat dan menurunkan nilai uang dari waktu ke waktu. Dari kebutuhan pokok seperti pangan, perumahan, hingga transportasi dan kesehatan, semuanya dapat terdampak.

Menurut Investopedia, inflasi yang tinggi cenderung menurunkan nilai tukar mata uang suatu negara dibandingkan negara lain. Saat nilai mata uang melemah, investor asing pun enggan menanamkan modal, karena pasar menjadi terlalu berisiko dan tidak stabil.

Negara dengan Inflasi Tertinggi di Dunia

Beberapa negara kini tengah menghadapi inflasi ekstrem yang membuat harga-harga melambung dan nilai mata uang mereka merosot tajam. Berdasarkan data Global Finance, inilah lima negara dengan tingkat inflasi tertinggi di dunia tahun ini.

1. Zimbabwe

1 USD = 322.000 ZWL

Meski mengalami sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya, Zimbabwe tetap menempati posisi puncak dengan tingkat inflasi 560.981% pada 2024. Negara ini sudah lama bergulat dengan hiperinflasi. 

Pada 2007-2008, harga satu roti bahkan bisa mencapai 10 triliun dolar Zimbabwe. Tak heran jika mata uang Zimbabwe kini dikenal sebagai salah satu yang paling terdepresiasi di dunia.

2. Argentina

1 USD = 1.050 ARS

Argentina menjadi salah satu korban ekonomi terbesar pascapandemi. Setelah sempat menahan inflasi di bawah 100% pada 2020-2022, badai besar datang pada 2023 dengan inflasi mencapai 133,489%, dan melonjak lagi ke 249,793% pada 2024. Krisis ekonomi dan ketergantungan terhadap utang luar negeri membuat peso Argentina kian melemah.

3. Sudan

1 USD = 600.933 SDG

Inflasi ekstrem di Sudan dipicu oleh instabilitas politik dan defisit anggaran yang membengkak. Pemerintah terpaksa mencetak lebih banyak uang demi menopang ekonomi. Hal ini menjadi langkah yang justru memperparah inflasi dan menurunkan nilai tukar pound Sudan.

4. Venezuela

1 USD = 56.579 VES

Setelah sempat mencapai inflasi ribuan persen pada awal 2020-an, Venezuela masih terus berjuang keluar dari krisis moneter. Pada 2024, inflasi negara ini tercatat 99,9%, akibat ketergantungan tinggi pada impor barang pokok dan praktik korupsi pemerintah. Upaya mencetak uang untuk membiayai impor justru memperparah depresiasi mata uang bolívar.

5. Turki (Türkiye)

1 USD = 35,67 TRY

Menutup daftar ini, Lira Turki terus kehilangan nilainya akibat kebijakan pemerintah yang tidak konvensional dalam mengendalikan inflasi. Meskipun bertujuan menekan harga, kebijakan tersebut justru membuat nilai tukar semakin lemah dan menempatkan Turki di jajaran negara dengan inflasi tertinggi.

Faktor di Balik Inflasi Ekstrem

Dari Zimbabwe hingga Turki, penyebab inflasi ekstrem umumnya berpangkal pada ketidakstabilan politik, salah urus ekonomi, hingga tekanan pasar global. Kombinasi faktor ini membuat nilai mata uang jatuh, harga naik, dan daya beli masyarakat menurun drastis.

Dan mengapa USD atau Dolar Amerika menjadi tolok ukur kekuatan mata uang dunia?

Karena stabilitas ekonomi, kekuatan militer, dan peran besar Amerika Serikat dalam perdagangan internasional menjadikan dolar sebagai mata uang cadangan global. 

Artinya, ketika ekonomi dunia goyah, investor cenderung beralih ke dolar AS sebagai “safe haven” atau aset yang dianggap paling sehingga selalu memperkuat posisinya di puncak sistem keuangan dunia.

Sebaliknya: Negara dengan Mata Uang Terkuat di Dunia

Menariknya, di sisi lain spektrum ekonomi global, ada negara-negara yang berhasil menjaga kestabilan moneter mereka.

Menurut Global Finance, Kuwait (KWD), Bahrain (BHD), dan Oman (OMR) tercatat memiliki nilai tukar terkuat terhadap dolar AS.

Nilai 1 dinar Kuwait bahkan setara dengan lebih dari 3,25 USD, menunjukkan kekuatan ekonomi dan stabilitas fiskal negara kaya minyak tersebut.

Untuk membantu masyarakat memahami konsep kompleks seperti inflasi dan nilai tukar ini, banyak media kini menggunakan video explainer edukatif yang menjelaskan bagaimana uang kehilangan nilainya atau mengapa dolar tetap kuat di tengah krisis. 

Cara visual seperti ini terbukti lebih menarik dan mudah dipahami, terutama bagi audiens muda yang gemar belajar lewat konten digital.

Fenomena inflasi global ini menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan ekonomi dunia. Nilai mata uang secara tidak langsung menjadi cerminan dari stabilitas politik, kebijakan fiskal, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya.

Di saat sebagian negara berjuang menahan laju inflasi, yang lain justru membuktikan bahwa pengelolaan ekonomi yang hati-hati dapat menjaga nilai mata uang tetap kuat di tengah gejolak global.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.