3 Tanda Kamu Butuh Detoks Digital

Kadang kita nggak sadar kalau gawai sudah jadi bagian dari hidup yang susah dilepas. Artikel ini bahas tanda-tanda halus yang nunjukin kamu...

3 Tanda Kamu Butuh Detoks Digital

Dalam kehidupan modern, ponsel dan media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Mengecek setiap notifikasi dan unggahan yang muncul di media sosial mungkin bukan lagi hal yang mengejutkan karena semua orang, yang juga pengguna perangkat elektronik bernama ponsel, pasti melakukannya.

Padahal, tanpa disadari, kebiasaan memeriksa notifikasi, menggulir layar tanpa tujuan, atau terus mengikuti informasi tentang kehidupan orang lain di media sosial dapat membuat pikiran lelah sekaligus juga menguras emosi. Nah, sebelum semuanya makin jauh memengaruhi kesehatan mental dan kualitas kehidupan sehari-hari, yuk mulai kenali 3 tanda utama bahwa kita sebenarnya sedang butuh detoks digital!

Merasa Cemas atau Stres saat Tidak Terhubungan dengan Internet

Ketakutan atau kecemasan saat tidak punya akses ke perangkat digital, misalnya ponsel atau internet, sering disebut Nomophobia (no mobile phobia). Ketika kita merasakan gejala seperti ini, termasuk kesulitan untuk berkonsentrasi, hanya karena terputus dari koneksi digital, ini bisa menjadi sinyal bahwa hubungan kita dengan teknologi mulai menjadi kurang sehat. Ketika kondisi semacam ini terjadi, saat itulah kita wajib melakukan detoks digital.

Namun, perlu dipahami bahwa bukan berarti semua kasus kecemasan karena tidak bisa terkoneksi dengan internet atau tidak memegang ponsel harus diatasi dengan detoks digital. Jika kita memiliki pekerjaan atau tugas yang memerlukan koneksi internet, misalnya, maka tidak terhubung dengan internet lebih cenderung memicu stres karena tertundanya pekerjaan, alih-alih karena “ketergantungan”.

Kualitas Tidur yang Buruk

Cahaya biru yang dipancarkan oleh layar perangkat kita dapat mengganggu ritme alami tidur dan bangun tubuh. Paparan cahaya ini membuat otak mengira bahwa kita masih berada di waktu siang hari sehingga tubuh tidak siap untuk beristirahat. Akibatnya, kita pun tidak bisa tidur nyenyak dan lebih cenderung beristirahat dengan gelisah.

Tidak mengherankan jika kebiasaan begadang untuk menonton TV atau menggulir konten media sosial di ponsel sebelum tidur sering kali membuat kita merasa lesu dan mudah mengantuk pada keesokan harinya. Nah, jika kondisi ini sudah terjadi, ada baiknya kamu mulai membatasi penggunaan gawai sebelum tidur agar kualitas tidur tetap terjaga.

Menurunnya Produktivitas

Penggunaan perangkat digital yang berlebihan sering kali menurunkan produktivitas karena mengganggu alur kerja dan mengurangi daya konsentrasi. Ketika kita terlalu sering membuka ponsel—untuk mengecek pesan, misalnya—di sela pekerjaan, otak dipaksa untuk terus beradaptasi dengan informasi yang datang silih berganti. Akibatnya, kemampuan untuk fokus pada satu tugas menurun dan waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan justru habis untuk hal-hal yang tidak penting.

Selain itu, paparan notifikasi yang terus-menerus menciptakan kebiasaan untuk segera merespons setiap gangguan sehingga sulit untuk mempertahankan alur berpikir yang mendalam. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan mental dan menurunkan kualitas hasil kerja. Oleh karena itu, jika produktivitas mulai menurun akibat gangguan digital, langkah sederhana seperti menjauh sejenak dari layar, menetapkan waktu khusus tanpa gawai, atau menerapkan batas penggunaan perangkat dapat membantu kita untuk memulihkan kembali fokus, ketenangan pikiran, dan efektivitas kerja secara keseluruhan.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.