10 Barang yang Bikin Rumah Penuh (Padahal Jarang Dipakai!)

Capek rumah selalu berantakan? Kenali barang-barang yang cuma bikin penuh dan jarang terpakai. Saatnya decluttering yang realistis dan anti-nyesel.

10 Barang yang Bikin Rumah Penuh (Padahal Jarang Dipakai!)

Pernah nggak sih, masuk ke rumah sendiri dan merasa “kok berantakan terus ya?” Padahal tiap hari bersihin.

Ternyata kondisi itu sering kali bukan karena kita kurang rapi, tapi karena kebanyakan menyimpan barang yang nggak penting-penting amat.

Rumah nyaman itu bukan tentang banyaknya dekor atau perkakas, melainkan memberikan ruang bernapas yang bikin hidup terasa ringan.

Kenapa “barang yang jarang dipakai” bisa bikin rumah & pikiran berantakan?

Kotak karton berlabel keep, donate, dan trash berisi pakaian sebagai bagian dari proses decluttering di rumah dengan dekor bernuansa alami. Mulai dari yang sederhana: sortir pakaian ke tiga kategori—keep, donate, dan trash—untuk ruang yang terasa lebih lega dan pikiran yang lebih tenang. (Foto oleh RDNE Stock project from Pexels)

Sebelum membahas list, riset menunjukkan bahwa tinggal di ruang yang penuh barang (clutter: tumpukan barang yang gak perlu) berdampak pada kesehatan fisik & mental, loh. Ini karena:

  • Otak kita akan terus “memproses” banyak objek di lingkungan. Kondisi ini jelas mengganggu fokus dan membuat kita mudah lelah. 
  • Rumah penuh barang cenderung meningkatkan stres — banyak orang melaporkan lebih tinggi hormon stres (cortisol) jika lingkungan rumahnya berantakan. 
  • Lingkungan yang rapi dan terorganisir punya efek positif. Sehingga meningkatkan ketenangan, konsentrasi, dan kesehatan emosional. 

Jadi ketika kita membahas item-item yang “jarang dipakai”, ini bukan soal estetika saja — tetapi soal kesejahteraan mental & kualitas hidup sehari-hari.

Nah sekarang, yuk cek, apakah barang-barang ini juga ada di rumahmu?

1. Wadah & tumbler promo yang berceceran

Sering dapat promo, terus tergoda ambil banyak wadah/tumbler lucu. Tapi setelah dipakai beberapa kali, sebagian besar malah “nganggur” dan menumpuk di rak/lemari piring.

Masalahnya: malah jadi visual clutter — banyak objek kecil yang bikin mata & otak terus “mencatat” keberadaan mereka. Ini bikin stres halus tiap kali pandangan melewati rak penuh wadah.

Tips: Simpan 2-3 yang paling sering dipakai, sisanya donasikan.

2. Bohlam & kabel cadangan yang menumpuk

Cadangan memang penting, tapi kalau tiap jenis ada 3–4 cadangan malah jadi beban mental.

Studi menunjukkan: clutter visual & ruang penuh partikel tak terpakai bisa menurunkan fokus dan produktivitas.

3. Hiasan dinding & dekor musiman (yang impulsif)

Karena “tertarik” lihat dekor aesthetic, kita jadi beli banyak. Tapi dekor ini kadang tak pernah menyatu dengan konsep rumah, jadi hanya menjadi pajangan yang cepat terlupakan.

Hasilnya: rumah terasa penuh dan pajangan sekedar watermark foto aja, bukan ruang nyaman yang benar-benar kita huni.

4. Peralatan dapur & baking yang jarang dipakai

Mixer, cetakan, loyang 7 ukuran— banyak ibu belanja, tapi biasanya hanya dipakai sekali-dua kali (misal: karnea FOMO). Selepas itu jadi tumpukan tak terpakai.

Rumah sempit + benda besar = ruang terasa sumpek. Ditambah lagi, udara & debu bisa mengendap, dan berisiko untuk kesehatan.

5. Pakaian “nanti kalau kurusan”

Wardrobe penuh dengan baju yang tidak sesuai bentuk tubuh sekarang membuat lemari sesak. Malah jadi terlalu banyak pilihan yang sering bikin bingung dan buang waktu.

Penumpukan pakaian bisa berdampak ke mood & rasa kepercayaan diri tiap kali kita buka lemari.

6. Kotak penyimpanan kosong / ekstra banyak

Kesannya memang aman, ada tempat penyimpanan cadangan. Tapi kalau semuanya dibiarkan kosong atau isinya malah kurang fungsional, malah makin makan tempat.

Faktanya: ruang/area yang terlalu banyak objek non-fungsional malah bikin otak sulit relax.

7. Produk skincare/parfum yang jarang cocok

Terlalu banyak produk cuma bikin meja rias penuh — efeknya: moment grooming malah jadi stres, tidak nyaman, kadang jadi malas skincarean lagi.

Ruang penuh benda kecil, terutama di area pribadi, bisa mengacaukan suasana hati dan relaksasi, loh.

8. Buku/majalah yang niatnya mau dibaca

Terjebak di rak bertahun-tahun. Buku & majalah menumpuk jadi debu. Akhirnya, banyak benda menyimpan “tugas tak selesai” — dan otak kita tetap “mengingatnya”.

Penelitian menunjukkan clutter di kamar/timeless space bisa mengganggu kualitas tidur & relaksasi.

9. Toples bekas yang menumpuk

Sering terjadi di dapur — karena berpikir “wadah ini bisa dipakai ulang”. Namun menyimpan terlalu banyak stoples menambah pekerjaan mencuci & malah sulit menjaga kebersihan.

Kombinasi clutter + partikel plastik bisa meningkatkan debu/PM2.5 / alergen yang berisiko untuk anak & ibu rumah tangga.

10. Barang lucu tapi tidak nyambung

Barang dekor yang tidak berpadu dengan gaya rumah sering membuat ruang terasa “asing” — bukan pelukan hangat.

Dekor tanpa makna = beban visual + mental, membuat rumah terasa seperti showroom bukan hunian sejati.

Tips: kurasi dulu barang-barang yang memang kamu butuh untuk suatu ruangan (selain mengedepankan estetika, juga pikirkan fungsionalitas) agar tidak berujung impulsif buying.

Intinya: Decluttering bukan sekadar trend estetika — tapi investasi emosional & mental

  • Menyingkirkan barang yang jarang dipakai = kurangi beban pikiran & stres tak terlihat
  • Membersihkan visual dan ruang memungkinkan otak berhenti “mode siaga”. Sehingga fokus & relaksasi lebih mudah 
  • Rumah jadi ruang hidup, bukan situs gudang — kita bisa lebih banyak menikmati moment, bukan sekedar tugas membersihkan yang tiada henti.

Kamu tidak harus buang semuanya sekarang, kok. Mulai dari satu area kecil dulu hari ini.

Kalau kamu ingin mendekor rumah jadi lebih terarah, aku sudah kurasi Warm Minimalism Home Essentials yang cocok banget untuk rumah Indonesia— simpel, hangat, dan anti-penuh.

Karena rumah rapi bukan yang paling luas, melainkan yang paling bisa bernapas untukmu.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.