2024 adalah tahun bersejarah bagi saya. Pada tahun itu saya bisa menulis dua buku sekaligus. Mungkin hal ini adalah hal kecil. Karena, penulis lain bisa menghasilkan karya lebih dari itu.
Buku-buku tersebut disambut hangat oleh beberapa teman yang sudah membaca. Bahkan ada yang minta tanda tangan. Saya jadi salah tingkah saat diminta tanda tangan. Apalagi dari pembaca yang belum saya kenal. Maklum saya penulis baru. Baru banget. Jadi mungkin agak sedikit berlebihan. Akan tetapi, saya bersyukur semua itu dapat saya peroleh.
2025 hadir sebagai tahun baru yang mengejutkan buat saya. Bukan karena karya saya yang semakin banyak, bukan pula pembaca buku saya yang menanti karya saya. Akan tetapi diri saya yang bermasalah.
Tahun 2025 menjadi tahun kesedihan bagi saya, tahun di mana berbagai keterpurukan menimpa saya. Sehingga tulisan-tulisan saya tidak bisa berkembang, bacaan saya tidak bisa diupgrade. Saya pun jadi down.
Apa penyebabnya?
Pikiran!
Yah, semua itu terjadi karena pikiran saya yang selalu sempit, selalu negatif, selalu lemas, selalu sedih, semua yang tidak berfaedah saya pikirkan. Sehingga yang positif tertutup dan hilang.
Sungguh malang nasib saya. Kalian tahu, saat itu saya kesulitan untuk membaca, kesulitan untuk menulis kata demi kata, apalagi untuk menjadikan sebagai sebuah karya.
Entah kenapa pikiran yang dulunya penuh motivasi dan yang selalu membangkitkan semangat mati begitu saja. Apakah tanpa alasan? Tentu tidak, kawan. Semua yang terjadi pasti ada sebab dan akibat.
Pertengahan 2025 tepatnya awal bulan Mei saya meneliti kembali pribadi saya. Apa yang terjadi. Kenapa saya seperti ini?
Dan ternyata semua itu karena pola pikir saya yang memang bermasalah. Kata-kata yang saya ucapkan ternyata berdampak pada keseharian saya.
Saya senantiasa berpikir "kok gini-gini terus sih hidup nih"
"Kok saya malas banget ya" "Ah, nonton lagi ah, masih banyak waktu."
Saya pun selalu berpikir negatif terhadap diri saya. Saya mulai memberi asumsi kalau saya tidak akan bisa menulis lagi, saya tidak bisa punya karya yang bagus seperti teman-teman lainnya. Saya tidak akan sukses seperti mereka.
Setiap hari. Bahkan setiap waktu saya ungkapan hal itu.
Apa yang terjadi?
Yah, saya kesulitan menulis, saya kesulitan membaca. Bahkan yang paling parah,saya juga kesulitan membangun kebiasaan positif lainnya. Seperti beribadah.
Sungguh hal ini menjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Ternyata separah itu pengaruh pikiran terhadap diri kita. Apa yang kita pikirkan setiap hari akan tumbuh dan berakar. Dan akan menghasilkan kebiasaan pada diri kita.
Maka, tak salah kalau dr. Ibrahim El-fiki menyatakan bahwa pikiran itu dapat memengaruhi fisik. Dapat memengaruhi kesehatan dll.
Pikiran memang perlu diolah agar tidak mendatangkan dampak negatif bagi diri sendiri. Pikiran itu benar-benar bisa membunuh semua kebaikan.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.