Pergeseran Moral Gen Z - Kisah Nyata Seorang Remaja SMP

Generasi Z adalah harapan bangsa. Jangan biarkan mereka tumbuh tanpa arah, hanya karena kita lalai dalam mendampingi di era serba digital.

Pergeseran Moral Gen Z - Kisah Nyata Seorang Remaja SMP

Perubahan zaman menghadirkan berbagai kemudahan. Gadget dan media sosial seolah menjadi kebutuhan pokok baru bagi generasi muda. Namun dibalik itu, tersimpan kisah pilu yang mencerminkan bagaimana pergeseran moral generasi Z terjadi ketika pengawasan keluarga melemah dan media sosial lebih berperan sebagai “guru” sehari-hari.

Ahmad, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang duduk di bangku SMP kelas 2, adalah potret nyata bagaimana media sosial dapat memengaruhi perilaku remaja. Awalnya, ia hanya menggunakan gadget untuk belajar daring. Namun seiring waktu, dunia game online dan konten TikTok mulai menyita seluruh perhatiannya.

Hari-hari Ahmad dihabiskan dengan menatap layar ponsel, menirukan gaya para konten kreator jalanan, hingga ikut kebut-kebutan dengan motor yang sebenarnya belum pantas ia kendarai. Ia semakin sering membantah ibunya yang selalu menasihati, dan semakin jarang mendengar teguran gurunya di sekolah.

Di rumah, situasi keluarga membuat pengawasan semakin longgar. Sang ayah bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia, sementara ibunya bekerja sebagai buruh harian di sawah milik tetangga. Kehadiran orang tua lebih banyak berupa kiriman uang untuk mencukupi kebutuhan anak. Segala fasilitas tersedia, namun kasih sayang dan kontrol perlahan menipis.

Suatu pagi, Ahmad datang ke sekolah dengan motor yang dibawanya tanpa izin resmi. Ia memacu kendaraan dengan gaya yang biasa ia lihat dari TikTok idolanya. Namun takdir berkata lain. Tepat di depan gerbang sekolah, sebuah mobil pickup tak sempat menghindar. Motor yang dikendarai Ahmad hancur remuk, tubuhnya terkapar tak sadarkan diri.

Ia dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi kritis. Sang ibu hanya bisa menangis di ruang tunggu, teringat segala nasihat yang kerap Ia ucapkan namun tak digubris. Para guru yang selama ini menegur hanya bisa menggelengkan kepala, menyesalkan bahwa semua peringatan berakhir terlambat.

Kisah Ahmad ini mencerminkan pergeseran moral generasi muda yang kerap terjadi di era digital. Paparan yang berlebihan tanpa pendampingan sering kali membuat anak lebih terikat pada tren digital ketimbang nilai keluarga atau sekolah.

Dalam kasus Ahmad, terdapat tiga faktor utama:

  1. Kurangnya pengawasan orang tua. Kesibukan ekonomi membuat kontrol terhadap penggunaan gadget anak melemah

  2. Pengaruh media sosial. Tren viral lebih mudah ditiru ketimbang nasihat guru atau orang tua.

  3. Minimnya sinergi pendidikan. Sekolah, keluarga, dan masyarakat belum terhubung secara kuat dalam membangun karakter anak.

Kasus seperti ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Orang tua tidak cukup hanya memberikan kebutuhan materi, tetapi juga harus hadir secara emosional dalam kehidupan anak. Guru bukan hanya penyampai pelajaran, tetapi juga penjaga nilai adab dan karakter. Media sosial pun perlu dihadirkan sebagai ruang edukatif, bukan hanya hiburan instan.

Sinergi orang tua, guru, anak, dan media sosial sangat penting. Anak perlu diarahkan agar mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar dan berkreasi positif. Orang tua perlu meluangkan waktu, meski sebentar, untuk berdialog dari hati ke hati. Guru dan sekolah bisa menghadirkan literasi digital agar siswa tidak terjebak pada konten yang merusak moral.

Kisah Ahmad adalah peringatan nyata. Gadget bukanlah musuh, tetapi tanpa kendali, ia bisa menjadi pintu masuk bagi pergeseran moral generasi muda. Tragedi ini seharusnya membuka mata kita semua bahwa mendidik anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, melainkan juga sekolah, lingkungan, bahkan ekosistem digital itu sendiri.

Generasi Z adalah harapan bangsa. Jangan biarkan mereka tumbuh tanpa arah, hanya karena kita lalai dalam mendampingi di era serba digital.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.