Sore itu hujan turun deras sekali. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sementara seorang ibu penjual sayur masih mendorong gerobaknya di jalan becek. Tubuhnya basah kuyup, hanya berlapis jaket tipis yang sudah lusuh.
Tiba-tiba, seorang pemuda menghampirinya dengan payung tua di tangannya. Payung itu sudah sobek di beberapa sisi, warnanya pudar, gagangnya pun berkarat. Tapi dengan payung itu, ia menutupi ibu penjual sayur tersebut.
“Ibu, mari saya antar sampai ujung jalan. Hujannya deras sekali,” katanya.
Sang ibu sempat menolak, tapi pemuda itu tetap tersenyum dan berjalan di sampingnya, menahan hujan dengan payung tuanya. Langkah demi langkah, meski sebagian tubuh mereka tetap basah, setidaknya kepala ibu itu terlindungi.
Sesampainya di ujung jalan, sang ibu menatap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca.
“Nak, payungmu ini sudah rusak. Tapi kebaikanmu… sempurna. Semoga Allah lindungi kamu, sebagaimana kamu melindungi ibu hari ini.”
Pemuda itu hanya tersenyum, lalu kembali melangkah. Dalam hatinya ia teringat firman Allah:
"Siapa yang berbuat baik seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)." (QS. Az-Zalzalah: 7)
Payung tua itu mungkin tidak berharga di mata orang lain. Tapi lewat payung itulah Allah menunjukkan bahwa kebaikan sekecil apapun bisa jadi pelindung untuk orang lain, bahkan menjadi sebab turunnya rahmat-Nya
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.