Dia duduk di sudut sepi,
mata menatap bayangan yang selalu mengingatkan luka.
Dunia menekan,
masa lalu menjerat,
tapi hatinya menolak mati.
Setiap napas adalah perlawanan,
setiap air mata adalah keberanian yang tak terlihat.
Dengan tangan gemetar,
dia meraih pecahan dirinya sendiri,
menggenggamnya erat,
dan perlahan berdiri.
Langkah demi langkah,
dia menyusuri gelap yang dulu menakutkan,
dan untuk pertama kali,
dia merasa cukup—
cukup untuk percaya bahwa
meski patah, ia masih bisa utuh.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.