
Selama bertahun-tahun, kita sering menyaksikan bagaimana sepak bola Indonesia terjebak dalam masalah yang sama.
Gonta-ganti pelatih, fokus pada hasil instan, dan minimnya pembinaan jangka panjang.
Jika saya diberi kesempatan untuk memimpin sebuah tim profesional, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Visi saya tidak hanya tentang memenangkan pertandingan, tetapi tentang membangun sebuah ekosistem yang secara sistematis memproduksi talenta terbaik. Berikut adalah rencana aksi saya.
1. Membangun DNA Klub yang Jelas
Langkah pertama adalah mendefinisikan identitas tim saya. Klub saya tidak akan bermain asal-asalan.
Saya akan menetapkan filosofi bermain yang agresif dan menyerang, yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Filosofi Sepak Bola Indonesia (Filanesia).
Dengan demikian, semua pelatih dan pemain, dari tim junior hingga senior, akan memiliki satu panduan yang sama. Ini akan menjadi DNA klub yang membedakan kami.
Kami akan dikenal karena gaya bermain kami, bukan hanya karena prestasi sesaat.
2. Berinvestasi di Akar Rumput, Bukan Hanya Mencari Bakat
Saya tahu, ribuan bakat tersebar di Sekolah Sepak Bola (SSB) di daerah kami.
Namun, kualitas pembinaan mereka sering kali tidak merata. Karena itu, saya tidak akan sekadar menunggu bakat datang. Saya akan menjadi motor penggerak.
Klub saya akan menjalin kerja sama strategis dengan SSB-SSB lokal. Saya akan menanggung biaya untuk menyediakan pelatih-pelatih berkualitas yang telah diselaraskan dengan filosofi klub kami.
Lebih dari itu, saya akan menyediakan fasilitas yang layak. Rencana saya adalah membangun dan menyediakan beberapa lapangan sepak bola berstandar di berbagai titik di kota ini.
Dengan cara ini, kami memastikan setiap anak memiliki akses ke pelatihan dan fasilitas terbaik, apa pun latar belakang mereka.
3. Menciptakan Kompetisi Sehat dan Terstruktur
Sebuah bakat tidak akan berkembang tanpa kompetisi. Setelah SSB-SSB ini terintegrasi dalam sistem kami, saya akan menyelenggarakan Liga SSB Lokal yang rutin setiap pekan.
Ini akan menjadi panggung di mana anak-anak dapat mengasah keterampilan mereka dalam situasi pertandingan sesungguhnya.
Dan di sinilah peran krusial para pemandu bakat klub saya. Mereka tidak akan lagi kesulitan mencari pemain.
Mereka dapat memantau ribuan anak secara langsung di liga ini, membandingkan kualitas mereka, dan mengidentifikasi talenta yang paling menonjol dari usia paling muda.
4. Menempa Pemain Elite di Akademi
Pemain-pemain terbaik yang terpilih dari liga SSB akan dibawa ke akademi utama klub saya. Di sini, mereka akan ditempa menjadi atlet profesional sejati.
Fasilitas di akademi akan jauh berbeda—lapangan latihan yang terawat, pusat kebugaran, dukungan nutrisi, dan tim psikolog.
Di akademi ini, mereka tidak hanya akan bersaing dengan pemain terbaik dari daerah, tetapi juga belajar untuk mengatasi tekanan dan mengembangkan mentalitas juara.
Ini adalah "filter" terakhir yang akan menghasilkan pemain-pemain dengan bakat naluri dan etos kerja yang luar biasa.
5. Realitas: Komitmen Jangka Panjang
Saya sadar, visi ini tidak bisa terwujud dalam semalam. Pembangunan infrastruktur dan biaya operasional akan menelan dana miliaran hingga puluhan miliar rupiah.
Dan hasilnya tidak akan terlihat instan. Jika saya memulai pembinaan dari anak berusia 6 tahun, panen pertama—pemain yang siap menembus tim senior—baru akan datang 12 hingga 14 tahun kemudian.
Ini adalah proyek jangka panjang yang membutuhkan komitmen penuh, kesabaran, dan kepercayaan.
Tapi saya yakin, dengan sistem ini, kami tidak hanya akan memenangkan pertandingan, tetapi juga menciptakan fondasi yang kokoh untuk masa depan sepak bola.
Kami akan membangun sebuah warisan yang jauh lebih berharga daripada piala.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.