Nama Jerome Powell, Ketua Federal Reserve (The Fed), mendadak trending hari ini di berbagai media internasional. Penyebabnya adalah pernyataan terbarunya mengenai arah kebijakan suku bunga AS yang dinilai akan berdampak besar terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.
Powell menegaskan bahwa The Fed masih berkomitmen menekan inflasi meskipun laju perekonomian mulai melambat. Pasar menafsirkan sikap ini sebagai sinyal bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari perkiraan. Akibatnya, investor global cemas, mata uang bergejolak, dan sentimen pasar terguncang.
Sebenarnya, setiap ucapan Powell memiliki bobot besar karena The Fed adalah bank sentral paling berpengaruh di dunia. Sedikit saja nada hawkish (keras) dalam pernyataannya bisa membuat dolar AS menguat dan memicu arus modal keluar dari negara berkembang.
Dampak pernyataan Powell tak berhenti di Wall Street. Di Indonesia, potensi yang mungkin terjadi antara lain:
-
Rupiah tertekan akibat dolar semakin kuat.
-
IHSG goyah karena investor asing lebih hati-hati menanam modal.
-
Biaya hidup naik, terutama harga barang impor, jika rupiah terus melemah.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi domestik.
Sebagian ekonom mengkritik Powell karena dianggap terlalu keras terhadap inflasi, sehingga bisa memperbesar risiko resesi. Namun ada pula yang menilai langkah tegas ini perlu agar inflasi global tidak lepas kendali.
Bagi Indonesia, momentum ini bisa dijadikan dorongan untuk memperkuat ketahanan ekonomi, mulai dari stabilisasi pangan hingga diversifikasi ekspor. Dengan begitu, gejolak kebijakan The Fed tidak terlalu mengguncang.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.