Dalam sebuah tayangan berita, disebutkan muncul fenomena hoarding disorder di kalangan penghuni kos.
Dilaporkan bahwa pemilik kos cukup geram melihat kamar kos miliknya ternyata dihuni oleh pelaku hoarding disorder. Apa sebenarnya hoarding disorder?
Berdasarkan halodoc.com yang direview oleh dr. Budiyanto, hoarding disorder adalah gangguan mental yang ditandai dengan kesulitan terus menerus untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang, tanpa mempedulikan nilai aktualnya. Atau dapat dipersingkat gangguan mental karena gemar menimbun barang-barang secara berlebih sekalipun tidak penting.
Hoarding disorder berbeda dengan malas. Namun gangguan mental ini juga bisa tumbuh karena kemalasan yang berkelanjutan, khususnya malas untuk membuang sampah, malas memilah barang yang tidak perlu, bahkan rela menimbun barang yang sama sekali tidak berguna.
Penyebab hoarding disorder bisa karena beberapa hal, baik faktor emosional maupun trauma. Mereka yang pernah kehilangan orang yang dicintai atau mengalami peristiwa memilukan rentan terjangkit masalah ini.
Selain itu, pola asuh saat kecil juga turut berpengaruh. Jika semasa kecil tidak dibiasakan untuk hidup sehat dan bersih, maka hal ini turut mendukung hoarding disorder.
Jika dibiarkan, hal ini bukan hanya membahayakan pemilik gangguan mental itu sendiri, tetapi juga orang sekitar yang tinggal bersama.
Kondisi rumah yang penuh dengan timbunan barang, sampah dan benda-benda tak berguna lain tentu akan menjadi sarang penyakit. Jangankan sanitasi yang bersih, akses untuk jalan di dalam rumah pun bahkan sulit karena banyaknya barang.
Hoarding disorder ini tidak bisa disembuhkan sendiri, tetapi perlu dukungan yang kuat dari sekitar. Sering diajak mengobrol untuk mengalihkan pikiran yang tertekan bisa jadi salah satu alternatif. Konsultasi medis juga sangat diperlukan.
Gangguan mental ini tidak bisa sembuh secara instan. Banyaknya faktor yang melatar belakangi penderitanya jadi poin utama untuk pendekatan recovery.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.