Efek rumah kaca ancaman nyata dunia

Efek rumah kaca ancaman nyata dunia

Efek rumah kaca ancaman nyata dunia

Dewasa ini, kita sering mendengar bahwa 10-25 tahun lagi Jakarta diperkirakan akan tenggelam. Kita juga mendenger bahwa setiap tahunnya permukaan laut mengalami kenaikan sekian sentimeter setiap tahunnya. Dewasa ini, para petani juga bingung karena sawah akan kebanjiran di musim penghujan dan kesulitan mendapatkan air di musim kemarau. Mereka bingung untuk pola menggarap sawah lantaran perubahan iklim yang tidak menentu, sehingga ketika musim kemarau, petani yang tidak memiliki sumur harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengairi sawah- sawah mereka.

Fenoma diatas terjadi akibat pemanasan global atau dalam istilah keilmuan adalah efek rumah kaca. Hal ini terjadi karena banyaknya konsentrasi gas Karbon dioksida (CO2) dalam atmosfer. Dalam kondisi normal CO2 bukanlah gas pencemar karena gas ini dihasilkan secara alami dari hasil pernapasan manusia dan hewan. Namun, CO2 bisa berubah menjadi gas pencemar apabila konsentrasinya dalam atmosfer meningkat akibat banyaknya hasil pembakaran/ gas buang kendaraan bermotor, kebakaran hutan dan juga asap pabrik. Sejatinya CO2 bisa diserap secara alami oleh tumbuhan hijau pada siang hari dalam proses fotosintesis dan menghasilkan Oksigen (O2). Namun dengan makin banyaknya kendaraan bermotor dan banyaknya hutan yang gundul mengakibatkan CO2 tidak terserap sempurna. Perlu diketahui, CO2 yang dihasilkan dari hasil pembakaran satu mobil hanya bisa diserap sempurna dengan empat buah pohon hijau ukuran besar.

Jika CO2 ini tidak dapat terserap sempurna maka konsentrasinya menjadi meningkat di dalam atmosfer sehingga berakibat seperti "rumah kaca" yakni lapisan CO2 ini bisa ditembus oleh radiasi atau pancaran sinar matahari yang datang tetapi panasnya tidak dapat menembus keluar sehingga permukaan bumi mengalami kenaikan suhu.

Ketika suhu bumi semakin naik, maka es di kedua kutub bumi akan mencair yang mengakibatkan permukaan air laut mengalami kenaikan setiap tahunnya. Semakin lama banyak sekali daratan atau pulau- pulau kecil yang tenggelam. Jadi jika para pengamat mengatakan bahwa Jakarta atau kota-kota pesisir akan tenggelam dalam 10-25 tahun kedepan bukanlah hal yang mengherankan. Setiap tahunnya Jakarta selalu mengalami banjir baik banjir akibat luapan sungai atau banjir pasang air laut (Rob). Begitu pula dengan kota Semarang, Jawa Tengah, banyak sekali daerah yang mengalami banjir rob. Setiap tahunnya Stasiun kereta api Semarang Tawang selalu terendam banjir ketika belom masuk puncak musim hujan. Hal tersebut terjadi karena Jakarta dan Semarang sama-sama di pesisir Lautan.

Negara Belanda sangat khawatir dengan fenomena pemanasan global ini. Hal tersebut tidaklah mengherankan karena wilayah Belanda 70% nya berada dibawah permukaan laut, sehingga jika air laut naik, maka negara Eropa tersebut akan menjadi yang pertama tenggelam. Negeri kincir angin membuat tanggul disepanjang pantainya di daerah- daerah tadi sehingga Belanda dikenal sebagai Netherland yang berarti tanah rendah. 

Berbagai negara di dunia terus berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan mengurangi emisi setiap tahunnya. Berbagai negara mengadakan kegiatan Car Free Day (Hari bebas kendaraan ) bermotor temasuk di Indonesia. Tujuannya tentu untuk mengurangi pelepasan CO2 ke udara. Selain melalui CFD, Usaha yang dilakukan oleh negara- negara di dunia adalah melakukan penghijauan (reboisasi) atau penanaman hutan kembali. kita sebagai warga negara Indonesia yang dianugarhi hutan hujan tropis yang lebat hendaklah menjaga dengan tidak menebang hutan secara liar. Ketika kita hendak mengambil satu pohon hendaklah direncanakan untuk menanam pohon kembali agar hutan tidak menjadi kundul karena Indonesia dikenal sebagai paru- paru dunia. 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.