Pagi itu, seperti biasa, Rani berdiri di depan cermin. Ia merapikan jilbabnya, memoles wajahnya sedikit, lalu menatap pantulan dirinya cukup lama.
Tiba-tiba ia tersenyum kecil. “Cermin ini jujur sekali,” gumamnya, “dia tidak pernah menyembunyikan kekuranganku.”
Cermin tidak pernah memanipulasi apa yang ia lihat. Ia menunjukkan noda, kerut, bahkan air mata tanpa ragu. Tapi ia juga menunjukkan senyum, cahaya mata, dan keindahan yang mungkin tak disadari pemilik wajahnya.
Begitulah seharusnya hati seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda:"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya." (HR. Abu Dawud)
Artinya, seorang muslim seharusnya menjadi pengingat yang lembut bagi saudaranya — bukan untuk mempermalukan, tapi untuk menolong agar sama-sama menjadi lebih baik.
Rani pun berpikir, “Kalau aku ingin jadi pribadi yang jujur dan bermanfaat, aku juga harus berani jadi cermin bagi orang lain — mengingatkan dengan kasih, bukan dengan amarah.”
Cermin mengajarkan kita bahwa kejujuran tidak selalu menyenangkan, tapi sangat dibutuhkan. Ia mungkin membuat kita sadar akan kekurangan, tapi justru dari situlah perbaikan dimulai.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.