Ketika tirai malam tersingkap perlahan, bukan janji keindahan yang menyambut, melainkan desakan untuk segera berlari. Di antara keheningan subuh, para pengejar sudah bangun, mata perih dan jiwa membara, terikat pada tali kendali yang kita sebut 'masa depan'.
Kelelahan yang dirasa bukan sekadar kantuk. Ia adalah kelelahan substansial yang ditumpuk oleh tuntutan yang tak pernah usai. Ucapan yang berbunyi harus 'sukses' saat usia masih belia, harus 'stabil' di tengah guncangan ekonomi, dan wajib 'produktif' di setiap detak jam.
Dunia seolah menagih harga yang mahal untuk sebuah kedamaian. Jam tidur yang harus ditukar, kehangatan keluarga dan kesenangan sederhana hari ini, demi janji manis kebahagiaan yang diletakkan jauh di ujung cakrawala. Ironisnya, semakin kuat berlari, semakin jauh pula rasa damai itu terasa.
Di tengah riuhnya kompetisi, banyak orang sering terperangkap dalam pusaran perbandingan. Layar ponsel memancarkan kehidupan yang sempurna, menciptakan ilusi bahwa hanya satu dari seribu yang tertatih di lumpur perjuangan. Rasa lelah pun bertambah, bercampur dengan rasa bersalah karena tidak mampu menyamai kecepatan orang lain.
Lelah ini mengajarkan satu hal yang pahit, "Masa depan yang dikejar bukanlah stasiun tujuan, melainkan sebuah peron yang terus berjalan. Setiap kali hampir meraih garis finish, tuntutan baru muncul, menarik garis itu lebih jauh lagi.
Di titik terlelah, ketika semangat terasa seperti bara yang nyaris padam, jiwa berbisik lembut : "Berhentilah. Bernapaslah."
Mengakui kelelahan bukanlah tanda menyerah. Ia adalah isyarat berharga dari tubuh dan batin untuk mengubah strategi. Tidak selalu harus berlari kencang. Boleh berjalan perlahan, bahkan berhenti untuk menikmati senja, atau sekadar membiarkan diri menjadi manusia yang 'cukup'.
Masa depan yang paling berharga bukanlah yang dihiasi harta benda melimpah, melainkan 'masa depan yang dicapai oleh jiwa yang utuh'.
Maka, biarkan subuh menyapa dengan jeda. Biarkan kopi terasa pahit tanpa perlu segera disertai beban pekerjaan. Karena hanya dengan menjaga waras, tubuh akan memiliki energi untuk sungguh-sungguh "menikmati kehidupan yang telah diperjuangkan dengan segala lelahnya".
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.