Banjir dan Longsor Sumatera, apa penyebabnya?

Banjir dan Longsor Sumatera, apa penyebabnya?

Banjir dan Longsor Sumatera, apa penyebabnya?

Akhir November 2025 menjadi pekan yang menyedihkan bagi masyarakat di tiga provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Banjir bandang dan tanah longsor hadir dalam waktu yang hampir bersamaan.

Di Aceh, banjir melanda hampir sebagian besar kabupaten kota di bumi serambi Mekkah tersebut antara lain Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Pidie Jaya, Aceh Tengah dll dengan merusak rumah, jembatan, jalan raya dan jalur kereta api. Bahkan tiga bupati di tanah rencong telah mengibarkan bendera putih karena tidak sanggup lagi mengatasi bencana tersebut dan meminta bantuan ke Pemerintah Provinsi dan Pusat.

Sementara itu di Provinsi Sumatera Utara, banjir juga melanda sebagian besar wilayah dengan paling parah terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Air bah bercampur lumpur dan kayu gelondongan berukuran besar menyapu daerah yang dilaluinya mengakibatkan kedua daerah tersebut terisolasi.

Di Sumatera Barat, meski tak separah dua provinsi lainnya tetapi juga mengalami kerusakan yang tidak sedikit. Salah satu daerah yang terkena banjir bandang adalah Lembah anai yang menjadi batas Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang Panjang.

Jalan Provinsi yang menghubungkan Kota Padang ke Kota Bukittinggi yang awalnya indah dengan jembatan kembar di depan Gapura Masuk Kota Padang Panjang serta pemandangan Air Terjun dan eks Jembatan Kereta Api berubah menjadi banjir lumpur yang mengerikan. Ada beberapa korban meninggal terdiri dari warga sekitar dan juga dari satu mobil yang kebetulan melintas.

Melihat Kondisi banjir dan longsor yang sedemikian parah dan juga penampakan tumpukan kayu gelondongan berukuran besar dan terpotong rapi sudah jelas bahwa terjadi hal yang tidak baik pada hutan di wilayah tersebut. Ini sekaligus membatah pernyataan perwakilan Kementerian Kehutanan yang mengatakan bahwa kayu-kayu tersebut terpotong secara alami atau karena kayu sudah tua.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga dikritik terkait pernyataannya bahwa banjir Sumatera adalah momentum memperbaiki hutan yang seakan-akan banjir bandang ini adalah event tahunan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga meminta maaf terkait pernyatannya bahwa banjir Sumatera hanya dibesar-besarkan media padahal sejatinya tidak separah itu.

Sementara itu dalam sambutannya dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2025, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan agar pelajaran tentang lingkungan dimasukkan dalam Kurikulum pelajaran Sekolah.

Terlepas dari semua pro dan kontra yang ada, Sebenarnya sudah jelas bahwa adanya kayu gelondongan yang terpotong rapi yang ikut terseret banjir menunjukkan adanya pembalakan liar yang terkendali.

Bisa saja ini disebabkan karena izin yang terlalu mudah atau memang ada aktivitas ilegal lain. Alih fungsi Hutan menjadi Kebun Kelapa sawit mengakibatkan daerah resapan air menjadi berkurang.

Air hujan yang turun dengan intensitas lebat akan langsung mengalir di permukaan tanah yang hutannya gundul sehingga menyapu apapun yang dilewatinya sebagai air bah yang mengerikan.

Selain itu tanah yang hutannya gundul juga menjadi sangat labil. Pelajaran seperti ini sejatinya telah kita pelajari sejak duduk dibangku Sekolah dasar dan SMP lewat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA ) serta diperkuat dengan Pelajaran Biologi di bangku SMA.

Namun karena banyaknya kepentingan, terkadang mereka yakni para pelaku pembalakan hutan dan juga para backingannya rela mengorbankan dampak negatif lingkungan untuk mendapatkan uang yang menggoda iman.

Negeri ini masih disibukkan dengan para pejabat yang memperkaya diri terbukti dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang membumi di ibu pertiwi.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.